Mengapa Martina Hingis bisa menjadi juara dunia di usia 17 tahun?

Ada yang merisaukan saat ini. Pemandangan remaja yang nongkrong di pinggir-pinggir jalan, warung-warung, pusat-pusat pertokoan atau di tempat lainnya.Terlihat Seakan-akan tidak ada yang mereka kerjakan, dan  sepertinya tidak ada masa depan atau rencana yang harus mereka siapkan dengan serius. Sehingga tidak mengherankan angka pengangguran di negeri ini masih juga merisaukan. Belum lagi efek lanjutan sebagai ‘produk’ kegiatan tidak terarah mereka berupa tawuran, familier dengan miras, narkoba bahkan kegiatan kriminal di kalangan remaja berupa ‘malak atau narget’ merampok dan sebagainya. Sehingga “seolah-olah” menjadikan manusia hina dan tidak sempurna.

Pertanyaan yang menggoda adalah mengapa Martina Hingis bisa menjadi juara dunia di usia 17 tahun, Husain Tabataba’i mendapat gelar doktor honoris causa bahkan di usia 7 tahun, atau (untuk menghibur diri) seorang anak Indonesia Fajar Ardian meraih medali emas olimpiade fisika internasional di Athena pada usia 17 tahun. Kita juga mengenal Michael Jordan dengan prestasi bola basketnya yang luar biasa. Atau sang Juara tujuh kali Tour de France Lace Amstrong, dan lain-lain. Apakah mereka punya bahan dasar penciptaan sebagai manusia unggul yang berbeda dengan kita? Tentu, kita sepakat siapapun dan hebatnya mereka, hakekatnya semua sama. Bahwa mereka adalah manusia seperti halnya kita. Namun, mengapa kita tidak bisa seperti mereka; menghasilkan karya yang terbaik dalam hidup ini?

Jika kita menganalisa mungkin akan kita temukan beberapa penyebab dari masalah tersebut. Salah satunya adalah karena kita belum terlatih untuk mengenal diri, potensi dan merencanakan masa depan secara cermat. Sedangkan mereka telah terbiasa merencanakan hidup, menyusun target terukur dan melangkah dengan terencana berupa usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Rencana dan tujuan masa depan yang disertai langkah sistematis  untuk mencapainya telah melahirkan orang-orang yang berprestasi di bidangnya. Sebaliknya, hidup tanpa rencana, tidak memamahi bagaimana visi dan misi hidup serta mematikan potensi kesempurnaan manusia telah menyebabkan jutaan pengangguran. Sehingga tidak ada kata yang pantas untuk kita lakukan saat ini untuk memperbaiki masa depan kita selain: mengenal dan mengoptimalkan karunia Tuhan tanpa batas dalam diri kita.

Sang Pencipta telah memberikan kita potensi yang luar biasa. Saatnya kita mengelola apa yang dianugerahkan sebagai wujud tanda syukur. Coba bayangkan, ketika anak manusia lahir saja Dia sudah membekali dengan 1 triliun lebih sel otak, dan menurut penelitian yang ada, seseorang yang menguasai aktif 32 bahasa, ‘tidak menghabiskan’ 1 sel otak, lantas bagaimana dengan kita? Berapa banyak potensi kita yang nganggur tak terolah. Belum lagi potensi-potensi lain yang telah Tuhan anugerahkan telah built-in dalam diri kita. Jadi tidak ada beda antara kita dengan siapapun yang mungkin telah menghasilkan karya yang terbaik dalam hidupnya. Setiap kita memiliki bahan baku yang sama. Hanya perbedaannya adalah kita belum menghidupkan dan mengoptimalkan potensi tersimpan dalam diri kita.